Rabu, 12 November 2014

DAHAGA LAUT

Kami anak nelayanDebur ombak adalah zikir kamiPasir putih adalah sajadah kamiAir laut adalah perut kamiDahaga kamiLapar kami

Kenapa ombak tiba-tiba menjulangMengukir gunung dalam sekejapLalu pecah terdorong dahsyatMenerjang gubuk-gubuk reot kamiMenggulung ibu yang sedang menjemur kain di halamanMenggamit tubuh kecil kami yang sedang membantu ayahMemungut ikan-ikan yang terdampar ituTerbayang ayah tak perlu melaut esok hariTak perlu membiarkan kami terjaga diwaktu subuhMembaui aroma laut di tubuhnyaIkan-ikan yang terdampar ituakan kami tukarkan dengan jala barumenggantikan jala usangnya yang berlubang

Hanya sekali ituHanya sekali itu saja ombak menjulangmenggulung tubuh kami dalam larva kelamlihatlah leher ibu yang berdarahatap rumah yang terseret arus melukainyalalu lumpur hitam yang pekat menutup rapat tubuhnyaMasya Allah, bayi itu lepas dari pelukan ibunyaTerlempar ribuan meterTangisnya hilang bersama detak jantungnyaYa Allah, terlalu cepat ia berlalu tanpa sempat menyentuh tangannyaYang menggapai-gapai itu, pandangan yang redup hilang dalam sekejapwahai, Di manakah dermagamu

Ombak itu terus berlari bagai bala tentara yang maha ganasMengejar kami yang berlarian tak tentu arahMembungkam jerit anak-anak yang ketakutanZikir yang tertahan, azan yang terpenggalInnalillahi wa inna ilaihi rajiunBeribu-ribu kami yang tak berdaya terkaparKaram bagai kapal kertasJiwa kami melayangbagai kapas dihempas badaiYa, hanya sekali ituDalam hitungan menit ombak itu kembali pulanglaut tenangtinggallah nyeri yang berenang-renang di darat inidi hati jutaan kami

Kami anak nelayan, hari-hari menghitung ombakMelukis purnama dalam pasang yang purbaMengintip penyu menitipkan telurnyaMembangun rumah-rumah pasir sambilmembayangkan ayah ibu menghabiskan senjanya di sanakini kami menyepi di tenda-tendasunyi dari deburan ombak

kami anak nelayandebur ombak adalah zikir kamipasir putih adalah sajadah kamiair laut adalah perut kamilapar kamidahaga kami

o lihatlah perahu-perahu itu menujujejak kampung kami yang senyap tanpa candapesisir yang wangi oleh cemaradesah nafas kami terkurung di sinibiarkan kami mendekatmemungut kayu-kayu yang berserakanuntuk tiang gubuk kami yang baru.

Banda Aceh, 18 Februari 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar